Buaya dan Anak
Hiu Jatuh Cinta
Guk…guk…guk
Suara anjing itu setiap hari membangunkanku. Tentanggaku baru saja membeli Anjing. Pada awal nya aku sama sekali
tidak peduli dengan itu tapi bila setiap hari harus mendengar suara gonggongannya, tentu sangat mengesalkan tapi dilain sisi Aku
jadi bangun lebih awal dari biasanya.Dengan raut muka kesal Aku duduk di tepi
tempat tidur lalu berdiri meninggalkan tempat tidur.
Dengan mata yang sayu aku bergerak ke kamar mandi melewati cermin yang
ada di kamarku. Disitu berdiri seorang laki-laki dengan mata yang menyeramkan,
yah itu lah diriku. Sejenak aku berpikir sudah berapa banyak orang yang takut
dan menjauhiku karena mata ini. Mata yang sangat tajam ini.
Setelah itu aku mandi dan bersiap untuk sekolah. Walaupun hari ini
adalah hari pertama sekolah di semester
baru aku tidak semangat sama sekali karena aku tidak suka tatapan itu, tatapan takut
dari orang lain ke diriku . Itu semua karena mata ini, mata yang diwariskan Ayahku
yang telah wafat.
“Dimas…Dimas! Sarapan,“ teriak Ibu memanggil dari arah dapur. Sentak aku
langsung mengambil tas dan turun menuju dapur. Itulah Ibuku, walaupun Ia harus
bekerja dari pagi ke pagi Ia masih sempat untuk menyiapkan sarapan. Lalu Aku
sarapan dan berangkat ke sekolah.
Suara burung berkicauan dan segar nya udara di pagi setidaknya menaikkan
mood ku saat itu. Sekolahku tidak
jauh dari rumahku hanya sekitar 500 meter sehingga aku memilih untuk berjalan
dari pada naik angkutan umum.
“Dimas!” seketika aku langsung melihat kebelakang dan melihat perempuan
dengan rambut sebahu dan mata yang seperti terbakar api, namanya adalah Tiara.
“Selamat pagi Dimas, apa kabar? Udah
lama gak ketemu. Liburan kemarin kemana aja?” sapa Tiara.
“Pagi Tiara , kabar ku baik kok ,
liburan aku cuman nganggur dirumah aja,” jawab Ku.
“Oke lah aku duluan ya!” Tiara lalu
pergi dengan semangatnya mendahului ku. Aku merasa aku suka dia,, matanya
selalu berkobar-kobar dan juga ia selalu ceria. Tatapannya membuat hatiku
berdegum kencang , ia sama sekali tidak takut dengan ku. Dibanding dengan Tiara
aku selalu mengarahkan pandanganku ke bawah agar orang tidak melihat mataku
yang menyeramkan ini.
Setibanya di sekolah aku langsung melihat papan pengumuman yang berada
di halaman sekolah untuk melihat dimana kelas yang aku masuki. Kondisi di papan
tersebut sangat ramai karena banyak siswa yang melihat papan tersebut. Lalu aku
menemukan namaku di kelas 2-3, selain namaku ternyata di situ ada nama Tiara
dan Andi. ternyata aku dan Tiara sekelas. Sekedar informasi Andi adalah teman
baik ku dari smp hingga sekarang, sungguh situasi ini membuatku senang. Setelah
itu aku menemukan nama lain yang mengundang perhatiaan ku.
Bunga
Selain aku ada satu orang lagi yang ditakuti disekolah ini namanya
adalah Bunga. Aku dan Bunga mendapat
julukan, Sura dan Baya. Aku dikatakan Baya karena mata ku yang tajam layaknya
buaya, sedangkan bunga dikatakan mirip dengan hiu yang ganas. Banyak orang
menganggap kami itu rival, padahal sebenarnya kami tidak mengenal satu sama
lain.
Saat aku sedang melihat lihat
papan pengumuman. Ada yang menabrak punggungku. Bruk Sontak aku melihat kebelakang. Terdapat siswi pendek dengan
muka kesal melihatku. Seketika aku mengingat anjing tetanggaku yang masih kecil,
tetapi sangat liar. “LIAT-LIAT WOI!” teriak siswi tersebut sambil menendang
badanku. Aku terjatuh karena tendangannya yang tidak kusangka sangat kuat. Lalu
aku tidak sengaja melihat namanya.
Bunga
Ternyata itulah Bunga alias Sura, rivalku yang dibacarakan orang-orang. Tubuhnya
kecil, rambutnya panjang sedikit bergelombang, wajahnya cantik, dan matanya
sangat indah. Siswa-siswa yang berada di sekitar ku langsung menjauh, mungkin
takut terkena imbas dari kemarahan Bunga.
Setelah itu aku langsung bangkit dan berhadapan dengan bunga ,“Maaf ya
gak sengaja,” kataku. Lalu aku langsung kabur ke kelas . Aku tidak seharusnya
meminta maaf padanya, karena bukan aku yang menabraknya, melainkan dia yang
menabrak ku. Tapi ya sudah lah aku tidak mau membuat masalah apapun dengannya,“Hari
yang sangat sial,” pikirku.
Saat di kelas tidak ada yang spesial yang terjadi padaku, kelas pada hari
itu layaknya hari pertama di setiap sekolah. Perkenalan, pemilihan ketua kelas,
jadwal piket, dan sebagainya. Yang aku baru tau ternyata Tiara berteman baik
dengan Bunga, tentu itu sangat mengejutkan bagi ku. Dan seperti biasa aku masih
tetap kesepian. Mataku yang menyeramkan ini seakan memberi peringatan bagi
orang lain agar tidak mendekat kepadaku.
***
Ding..dang..ding..dung Kepada semua siswa diperbolehkan pulang
ding..dang..ding..dung
Sekolah ku menggunakan sistem Full day , artinya kami akan dipaksa
belajar 7 jam selama 5 hari seminggu,
atau lebih tepat nya dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore dan akan tutup jam
setengah 6 sore. Tentu saja jam sekolah yang sepeti ini sangat terasa melelahkan.
Akhirnya banyak dari kami para siswa yang lansung pulang sehabis pulang sekolah.
Walaupun seperti itu masih ada juga para siswa yang mengikuti kegiatan sehabis
sekolah. Mereka-meraka yang pulang lebih lama biasanya adalah siswa-siswa yang
mempunyai urusan di sekolah entah itu ekskul, piket, OSIS, ataupun siswa-siswa
yang bermasalah.
Seperti siswa kebanyakan aku juga tidak mengikuti kegiatan –kegiatan
yang ada di sekolahku, alasannya simpel karena tampangku ini. Lagi-lagi aku
takut jika aku ikut ekskul ataupun OSIS di sekolahku itu akan membuat
kegemparan di sekolah. Jadi biasanya begitu bel pulang aku langsung pulang.
Selain jam sekolah yang sangat lama, kelelahanku bertambah karena sialnya
kelasku berada di lantai 3 di sekolah ini. Ya dapat dibayangkanlah betapa
lelahnya jika harus berjalan ke gerbang sekolah setiap harinya. Tapi mau gimna
lagi sudah takdir. Akupun mengambil tas dan pergi meninggalkan kelas.
Di lorong kelas aku menemukan
Andi yang sedang membawa Buku. Ku lihat Andi kesusahan membawa buku tersebut
karna buku yang dibawanya cukup banyak dan besar-besar. Karenasimpati akupun
menghampirinya.
“Hi
ndi mau kubantu?”
“Boleh-boleh,
makasih lo.”
“Buku
apa ni? banyak amat.”
“Oh
ini tu buku alumni sini, tadi bu Marwa nyuruh aku bawa buku ini.”
“Bu
Marwa? Wali kelas kita itu. Apa gak capek ndi ni buku banyak amat lo? Itulah
mau gimana lagi udah tugas ketua kelas.”
Beberapa menit kemudian sampai lah kami di ruang guru, letak nya berada
di lantai dasar. Ternyata masih ada juga guru-guru yang berada di ruangan
tersebut. Ada yang memeriksa tugas, ada yang makan, ada yang sedang
berbincang-bincang, dan ada juga yang bersiap untuk pulang. Di antara para guru
yang sedang berbincang disana lah Bu Marwah sedang berdiri. Bu marwah itu guru
bahasa inggris kami sekalian wali kelas kami, dia masih muda jadi sangat
semangat saat mengajar. ia juga sangat suka berbicara tentang masa muda kepada
murid-murid sehingga banyak murid yang curhat dengganya tentang masalah
percintaan, namun lucu nya dia juga
seperti nya takut sama ku karena saat aku berbicara dengangannya matanya
melihat kearah lain.
“Ini
Bu buku nya” kata Andi
“Oh
ya thank
you andi” Balas Bu Marwah.
Setelah itu Andi menyalam ibu itu dan menghampiri ku ,“Makasih ya mas.
Oh iya aku mau ke ruang osis ni darurat aku dluan ya ” kata Andi ,” oke ndi
hati-hati yo aku juga pulang”. Andipun bergegas ke ruang osis. Sebelum pulang
aku memeriksa tas ku apakah semua sudah masuk. Dan ternyata ada buku yang
tertinggal akupun memutuskan untuk mengambil buku tersebut. Dengan segedap
kemampuan yang ada aku pergi ke kelas ku yang berada di lantai tiga.
Setelah sampai di depan kelas aku terkejut dengan keadaan kelas yang
begitu parah,”Aduh cobaan apa lagi ini “ kelas benar-benar dalam keadaan
berantakan meja dan kursi terbalik-balik dan foto juga hiasan dinding semuanya
berserakan, dengan berat hati akupun membereskanya. Sudah pukul 4 sore dan aku
masih juga belum selesai membereskan kelas, aku beristirahat sebentar ,” Aduh
capeknya…” kata ku. Setelah aku mengatakan itu tiba-tia ada yang memanggilku
,”Dimas!” aku kenal suara itu, tak lain tak bukan adalah suara Tiara.
”Tiara?
kok masih disini”
“Biasalah
latihan rutin basket”
“Iya
juga ya”
“Ngomong-ngomong
ni kelas kenapa berantakan gini”
“Gak
tau tu tiba-tiba waktu aku mau ngamil barang yang ketinggalan udah hancur aja”
“Okelah
biar kubantu lagian inikan kelas bersama”
Aku bersama Tiara akhirnya mengatur
ulang kelas kami semerti sedia kala. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk
membuatnya rapi kembali ,”Makasih ya
Tiara” kata ku ,“sama-sama mas” kata Tiara.Setelah itu Tiara kembali ke
lapangan dan aku mencari bukuku yang tidak sengaja kutinggal di kelas. Beberapa
menit kemudian aku menemukan bukuku di salah satu laci meja di kelas ku lalu
akupun meninggalkan kelasku dan segera pulang ke rumah.
Matahari sudah berganti menjadi bulan, sore berganti malam. Seperti
biasa Ibuku belum juga pulang, ya kondisi sepeti ini biasa terjadi Ibu biasa
pulang tengah malam, mau tidak mau aku harus mengurus makanku sendiri. Karena
seringnya aku ditinggal kerja begini
oleh Ibuku aku jadi handal dalam pekerjaan rumah mau itu menyapu, mengepel,
bahkan memasak sudah tidak asing lagi bagiku. Aku hanya perlu memasakkan makan
malam untuk Ibu agar saat Ibuku pulang, ia tinggal memanaskan makan malam
tersebut.
Setelah aku makan dan mandi, aku lalu menyiapkan pelajaran untuk besok
agar tidak repot di pagi harinya. Di
saat aku memeriksa buku di tas ku, aku menemukan amplop di kantong tas ku. Amplop
tersebut tidak mempunyai alamat tujuan dan nama pengirim, hanya amplop amplop
dengan surat di dalamnya, Karena penasaran kubukalah amplop itu dan membaca
surat itu dan aku sangat terkejut membaca isi surat tersebut. Ternyata surat
itu adalah surat cinta. kira-kira seperti ini lah isi surat tersebut.
|
Aku tidak tau apa yang harus aku
tuliskan dalam secarik kertas ini
Mungkin banyak hal yang tidak ku tahu tentang dirimu,
Tapi yang aku yakin adalah perasaan ini kepada mu.
Perasaan yang kukemas rapi di atas
kertas ini.
Melihat senyummu…
Melihat tawamu…
Aku ingin disetiap hari-hariku….bersamamu,
Menjadi hari-hari yang dapat kuingat
dari pengagum rahasiamu… |
Aku kaget dan tidak percaya dengan apa yang telah kubaca. Coba pikirkan,
mana mungkin laki-laki menyeramkan seperti diriku ada pengagum rahasia. Aku
merasa surat ini bukan ditujukan untuk diriku. Tapi jantungku berdetak dengan
kencang muangkin masih beraharap kepada surat tersebut, mana tau surat tersebut
asli.
“ Hoaammm,” aku menguap, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ibu masih
juga belum pulang, mungkin ia masih terjebak dengan pekerjaannya yang banyak disana-sini.
Akupun hanya dapat berdiam diri di ruang tengah sambil memikirkan kembali siapa
pengirim surat cinta itu. Setengah jam kemudian aku mendengar suara ribut dari
kamar ku. Brak…bruuk..brak Aku kaget
dan langsung ke kamar dengan membawa sapu di tangan untuk jaga-jaga. Sampailah
aku di depan kamar, lalu dengan kuat kubuka pintu kamar dan teriak ”SIAPA ITU?!”.
Aku ambil lima langkah dari depan pintu sambil melihat keadaan kamar yang
berantakan, namun tidak ada orang di dalamnya.
BAM! Tiba-tiba ada yang menendang punggungku dari
belakang hingga tulang belakangku berbunyi. Seketika aku langsung tersungkur ke
depan. Si pelaku langsung menginjak punggung ku sambil mengatakan,”DIMANA SURAT
KU?!” . terhalangi cahaya lampu, kulihat samar-samar seorang perempuan dengan pakaian
sma. Dan ternyata setelahku lihat, ternyata perempuan tersebut kukenal. Ia
adalah bunga perempuan ganas yang menendangku pagi tadi.
”KUTANYA SEKALI LAGI DIMANA SURATKU?!” tanya Bunga sekali lagi “Ha?
Surat, surat apa?” tanyaku spontan. Dengan muka memerah ia menjawab ,“Surat
cinta” jawabnya, lalu aku diam. Aku memberikan isyarat untuk menunggu di
kamarku, aku langsung mengambil surat tadi dan memberikan kepada bunga.
“Maksudnya
surat ini.”
“Ha
iya ini dia suratnya, maaf ya salah orang.”
“Hadeuh,
kau harus bertanggung jawab, kamarku berantakan.”
Akhirnya Aku dan Siska membereskan kamarku setelah itu aku menawarkan
kepadanya untuk bercerita lebih lanjut soal surat cintanya. Aku bertanya
kepadanya kepada siapa dia akan memberikan surat cinta tersebut ,”Andi” kata
Bunga. Aku tidak heran kenapa Bunga bisa salah tas karena kebetulan kursiku
dengan kursi Andi berdekatan. Apalagi bunga pasti gugup saat menyelundupkan
surat tersebut.
“Mas
tolonglah comblangi aku sama Andi”
“Ha?
kenapa harus aku”
“Ya
wajar lah kaukan dekat dengan Andi”
“Okelah
tapi ada syaratnya kau harus comblangi aku dengan Tiara”
“Sepakat”
Setelah itu Aku dan Bungmembuat rencana sedemikian rupa agar aku dapat
pacaran dengan Tiara dan Bunga dapat pacaran dengan Andi. Mulai besok Aku dan
Siska sepakat untuk bekerja sama dalam masalah percintaan. Dan akhirnya bunga
pulang ke rumahnya. Akupun tidur setelah kejadiaan itu.
***
BANGUUUUUUN!
Aku melompat dari tempat tidurku. Suara anjing yang biasa membangunganku
sekarang telah berubah menjadi teriakan maut belapiskan amarah. Tak
disangka-sangka ternyata Bunga yang berteriak memabangunkan ku. Mungkin dia
terlalu antusias dengan aliansi yang kami buat, sehingga Ia sampai datang ke
rumah ku ini.
Setelah itu Bunga langsung menyuruhku bersiap, akupun bergegas
bersiap-siap, sedangkan Bunga menunggu di bawah. Lalu aku ke dapur dan melihat Ibu
dan Bunga sedang mengobrol. ”Ma kok Bunga
dikasih masuk kamarku sih?” kataku. ”Itung-itung bangunin kamu Mas,
sudah-sudah makan Nanti terlambat ke sekolah.” kata Ibuku. Aku, Ibu, dan Bunga
sarapan bersama-sama, Lalu aku pamit ke Ibuku dan kamipun berangkat sekolah.
“Eh ini jadi kan?” tanyaku. ”Jadilah masak engak, kau maukan deket sama Tiara,
pokoknya ikutin ajalah aku.” jawab Bunga. Menurut Rencana kami, hari ini saat
jam makan siang Bunga akan mengajak
Tiara untuk makan siang dengan ku, untung-untungan Aku dan Tiara makin
akrab. Setelah itu Aku akan mempertemukan Andi dengan Bunga di halaman belakang
sekolah, saat kutanya dia mau ngapain dengan Andi, Bunga hanya senyum manyun
tanpa menjawab pertanyaanku. Yap itulah kira-kira ringkasan rencana kami. Aku
dan Bunga sama-sama berjuang sepanjang perjalanan sekolah kami.
Dan kamipun sampai di sekolah dan belajar seperti biasa, hingga tibalah
waktu makan siang. Aku gugup ,namun demi kelancaran rencaan ini aku harus dapat
menahan kegugupanku yang sangat besar. Saking gugupnya rasanyan aku ingin
menunutup muka ini.” Ara makan sama kuy” panggil Bunga ke Tiara, menandakan
operasi makan siang dimulai.” Oke,“ kata Tiara. Tiara pun dengan semangat
mengambil bekal makan siangnya dan berjalan menuju meja Bunga. Setelah itu
mereka makan bareng dan aku tinggal menunggu sinyal dari Bunga
Setelah beberaopa saat kemudian Bunga melakukan perengakan tangan ke
atas setelah kulihat sinyal tersebut dengan gagahnya Aku berjalan melintasi
Bunga dan Tiara sambil membawa bekal makan siangku, aku katakan gagah, tapi
sebenarnya aku berjalan kaku ke tempat mereka, Bunga yang melihatku
berjalan seperti itu mempunyai ekpresi
wajah seakan-akan mengatakan bahwa diriku ini sangatlah payah. Kemudian masuklah ke tahap selanjutnya dalam rencana kami,
Bunga akan mengajak ku untuk makan bersama mereka. “Dimas! Ayo makan bareng.”
Panggil Bunga.” Makan bareng? Oke.” Akupun datang dan duduk disebelah Tiara.
Untuk saat ini rencana kami bisa dikatakan safe.
Dan tahap selanjutnya adalah Bunga akan mengajak Aku dan Tiara saling
berbicara, namun tiba-tiba.”Widih makan bareng gak ngajak-ngajak.” Andi datang
menghampiri kami sambil membawa bekal makan siangnya.” Aku Ikutan ya?” Tanya
Andi, Kondisis seperti ini diluar rencana kami. Aku bingung dan langsung
bertanya kepada Bunga menggunakan kode. Sialnya yang kulihat hanyalah Bunga
dengan muka yang memerah dan mulut sedikit terbuka, setelah melihat Bunga yang
seperti itu aku langsung mengambil kendali dan meng-iyakan Permintaan Andi
tersebut, karena kulihat Tiara juga terlihat tidak keberatan dengan adanya
Andi.”Oke makan bareng kita” Jawabku.
Disinilah empat anak remaja SMA sedang melanjutkan masa mudanya, dimana
dua diantaranya sedang dimabuk cinta dan dua lainnya adalah targaet mereka.
Karna kehadiran Andi Bunga tidak dapat berbicara leluasa dan rencana makan
siang ini berantakan, namun dewi fortuna sedang dipihak ku, dari kekosongan
makan siang kami, Tiara membuka mulutnya untuk memulai percakapan diantara
kami.”Eh mas tadi pagi aku liat bunga sama kamu jalan bareng ke sekolah, kok
tiba-tiba jadi akrab gitu ?” Tiara bertanya kepada ku. Aku panik dan langsung
menjawab bahwa Aku dan Bunga bertemu di supermarket dekat rumah ku ,dan
ternyata rumah Bunga dekat dari tempat tinggal ku, aku tau itu sebuah
kebohongan, tapi ya mau gimana lagi dari pada rencana ini terbongkar.” Yah tu
mas,Aku kaget loh liatnya gak kusangka ada juga yang mau temenan ama kamu mas.”
Sahut Andi, Bunga hanya menganggukan kepala nya setuju dengan andi, ia sama
sekali tidak membantu.
Lalu kami diam kembali, kali ini tidak ada percakapan diantara kami,
kosong seperti malam hari. Kulihat jam dan istirahat tinggal sepuluh menit
lagi, waktu ku untuk lebih dekat dengan Tiara menipis. Kemudoa tidak sengaja
kulihat buku yang ada di samping Tiara lalu akupun bertanya.”Tiara kamu suka
baca buku ya?” pertanyaanku itu membuat percakapan dimulai kembali. Tiara
mengakatakan bahwa ia suka membaca novel misteri dan buku-buku tentang
konspirasi, setelah itu kami berempat memulai percakpan yang menarik tentang
sekolah, kegiatan sehari-hari, kesukaan , bahkan sampai pandangan kami terhadap
alam dan sekitar. Dengan itu Aku makin dekat dengan Tiara sekaligus dengan Andi
dan Bunga. Rencanaku sukse, apalagi kulihat Bunga dengan Andi juga makin dekat,
ini seperti sekali dayung dua tiga pulau
terlewati.
Setelah makan siang Aku dan Bunga
melajutkan rencana kami untuk embuat Bunga dengan Andi semakin dekat. Aku tidak
tahu kenapa tapi untuk rencana kali ini Bunga hanya memintaku untuk
memanggilkan Andi untuknya, ya akupun hanya menuruti apa kemauan Bunga. Sehabis
pelajara di sekolah aku langsung menjumpai Andi dan mengatakan bahwa Bunga
memanggilnya di pohon belakang sekolah. Andi meng-okekan pangilan tersebut dan
Aku menkonfirmasi kedatangan Andi kepada Bunga. Setelah itu Aku bergegas untuk
pulang.
Saat melewati perpustakaan sekolah, Aku melihat Tiara yang sedang
membaca dengan asyik di sana, lalu aku terpikirkan untuk menghampirinya atau
tidak. Dengan segenap keberanian yang ada Aku memutuskan untuk
menjumpainya.”Hai Tiara hari ini gak latihan basket?” Tanyaku.” Oh Dimas
ternyata, anak basket gak ada yang bisa latihan di cancel deh jadi nya.” Jawab Tiara.”Baca asik bener, baca apa si?”
Tanya ku lagi.” Oh ini tu novel misteri dari Agatha Chiristie. Mendengar itu aku langsung mengajak ngobrol
mengenai novel buatan Agatha Chiristie ke
Tiara karena kebetulan Aku suka Novel buatanya. Kami ngobrol cukup lama dan
akhir obrolan kami ,Tiara memberitahuku soal Bunga kepada ku. Tiara mengatkan
bahwa Aku harus memerhatikan Bunga karena Bunga sangatlah rapuh. Setelah
percakapn kami tersebut aku langsung mengecek keadaan Bunga di halaman belakang
sekolah.
Setibanya di halaman belakng sekolah aku melihat Bunga sedang duduk
sambil melihat langit, lalu Aku mengampirinya.”Bunga gimana hasil nya?”
Tanyaku.”Parah mas, Aku ditolak.” Kata Bunga. Ia pun menangis setelah
mengatakan itu aku mencoba untuk menenangkannya. Lalu Aku mengatakan satu
kalimat kepada Bunga.
” jangan menyerah masih banyak
kesempatan kau adalah si Sura dan aku adalah si Baya dengan kekuatan dua oarang
yang ditakuti di sekolah ini kita akan membuat Andi menyesal menolak mu.”
Setelah aku mengatakan itu Bunga bangkit dan mengatakan iya tidak akan
menyerah. Akhirnya perjalanan ku dengan Bunga dimulai kembali.
Nama:Taufiqurrahman
Tempat,Tanggal,lahir: Bogor 2 Maret 2002
Status: Siswa Kelas XII IPA 1 T A 2019/2020
Nama Ortu: Azhar
Alamat Jalan Pasar 1 Tanjung Sari G.Mahoni No 5 Medan Selayang