Selasa, 22 Oktober 2019




Buaya dan Anak Hiu Jatuh Cinta



       Guk…guk…guk
       Suara anjing itu setiap hari membangunkanku. Tentanggaku baru saja  membeli Anjing. Pada awal nya aku sama sekali tidak peduli dengan itu tapi bila setiap hari harus mendengar suara gonggongannya,  tentu sangat mengesalkan tapi dilain sisi Aku jadi bangun lebih awal dari biasanya.Dengan raut muka kesal Aku duduk di tepi tempat tidur lalu berdiri meninggalkan tempat tidur.
       Dengan mata yang sayu aku bergerak ke kamar mandi melewati cermin yang ada di kamarku. Disitu berdiri seorang laki-laki dengan mata yang menyeramkan, yah itu lah diriku. Sejenak aku berpikir sudah berapa banyak orang yang takut dan menjauhiku karena mata ini. Mata yang sangat tajam ini. 
       Setelah itu aku mandi dan bersiap untuk sekolah. Walaupun hari ini adalah  hari pertama sekolah di semester baru aku tidak semangat sama sekali karena aku tidak suka tatapan itu, tatapan takut dari orang lain ke diriku . Itu semua karena mata ini, mata yang diwariskan Ayahku yang telah wafat.
       “Dimas…Dimas! Sarapan,“ teriak Ibu memanggil dari arah dapur. Sentak aku langsung mengambil tas dan turun menuju dapur. Itulah Ibuku, walaupun Ia harus bekerja dari pagi ke pagi Ia masih sempat untuk menyiapkan sarapan. Lalu Aku sarapan dan berangkat ke sekolah.
      Suara burung berkicauan dan segar nya udara di pagi setidaknya menaikkan mood ku saat itu. Sekolahku tidak jauh dari rumahku hanya sekitar 500 meter sehingga aku memilih untuk berjalan dari pada naik angkutan umum.
       “Dimas!” seketika aku langsung melihat kebelakang dan melihat perempuan dengan rambut sebahu dan mata yang seperti terbakar api, namanya adalah Tiara.
“Selamat pagi Dimas, apa kabar? Udah lama gak ketemu. Liburan kemarin kemana aja?” sapa Tiara.
“Pagi Tiara , kabar ku baik kok , liburan aku cuman nganggur dirumah aja,” jawab Ku.
“Oke lah aku duluan ya!” Tiara lalu pergi dengan semangatnya mendahului ku. Aku merasa aku suka dia,, matanya selalu berkobar-kobar dan juga ia selalu ceria. Tatapannya membuat hatiku berdegum kencang , ia sama sekali tidak takut dengan ku. Dibanding dengan Tiara aku selalu mengarahkan pandanganku ke bawah agar orang tidak melihat mataku yang menyeramkan ini.
       Setibanya di sekolah aku langsung melihat papan pengumuman yang berada di halaman sekolah untuk melihat dimana kelas yang aku masuki. Kondisi di papan tersebut sangat ramai karena banyak siswa yang melihat papan tersebut. Lalu aku menemukan namaku di kelas 2-3, selain namaku ternyata di situ ada nama Tiara dan Andi. ternyata aku dan Tiara sekelas. Sekedar informasi Andi adalah teman baik ku dari smp hingga sekarang, sungguh situasi ini membuatku senang. Setelah itu aku menemukan nama lain yang mengundang perhatiaan ku.
       Bunga
       Selain aku ada satu orang lagi yang ditakuti disekolah ini namanya adalah  Bunga. Aku dan Bunga mendapat julukan, Sura dan Baya. Aku dikatakan Baya karena mata ku yang tajam layaknya buaya, sedangkan bunga dikatakan mirip dengan hiu yang ganas. Banyak orang menganggap kami itu rival, padahal sebenarnya kami tidak mengenal satu sama lain.
       Saat aku sedang melihat lihat papan pengumuman. Ada yang menabrak punggungku. Bruk Sontak aku melihat kebelakang. Terdapat siswi pendek dengan muka kesal melihatku. Seketika aku mengingat anjing tetanggaku yang masih kecil, tetapi sangat liar. “LIAT-LIAT WOI!” teriak siswi tersebut sambil menendang badanku. Aku terjatuh karena tendangannya yang tidak kusangka sangat kuat. Lalu aku tidak sengaja melihat namanya.
       Bunga
        Ternyata itulah Bunga alias Sura, rivalku yang dibacarakan orang-orang. Tubuhnya kecil, rambutnya panjang sedikit bergelombang, wajahnya cantik, dan matanya sangat indah. Siswa-siswa yang berada di sekitar ku langsung menjauh, mungkin takut terkena imbas dari kemarahan Bunga.
       Setelah itu aku langsung bangkit dan berhadapan dengan bunga ,“Maaf ya gak sengaja,” kataku. Lalu aku langsung kabur ke kelas . Aku tidak seharusnya meminta maaf padanya, karena bukan aku yang menabraknya, melainkan dia yang menabrak ku. Tapi ya sudah lah aku tidak mau membuat masalah apapun dengannya,“Hari yang sangat sial,” pikirku.
       Saat di kelas tidak ada yang spesial yang terjadi padaku, kelas pada hari itu layaknya hari pertama di setiap sekolah. Perkenalan, pemilihan ketua kelas, jadwal piket, dan sebagainya. Yang aku baru tau ternyata Tiara berteman baik dengan Bunga, tentu itu sangat mengejutkan bagi ku. Dan seperti biasa aku masih tetap kesepian. Mataku yang menyeramkan ini seakan memberi peringatan bagi orang lain agar tidak mendekat kepadaku.



***

      Ding..dang..ding..dung Kepada semua siswa diperbolehkan pulang ding..dang..ding..dung
       Sekolah ku menggunakan sistem Full day , artinya kami akan dipaksa belajar  7 jam selama 5 hari seminggu, atau lebih tepat nya dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore dan akan tutup jam setengah 6 sore. Tentu saja jam sekolah yang sepeti ini sangat terasa melelahkan. Akhirnya banyak dari kami para siswa yang lansung pulang sehabis pulang sekolah. Walaupun seperti itu masih ada juga para siswa yang mengikuti kegiatan sehabis sekolah. Mereka-meraka yang pulang lebih lama biasanya adalah siswa-siswa yang mempunyai urusan di sekolah entah itu ekskul, piket, OSIS, ataupun siswa-siswa yang bermasalah.
       Seperti siswa kebanyakan aku juga tidak mengikuti kegiatan –kegiatan yang ada di sekolahku, alasannya simpel karena tampangku ini. Lagi-lagi aku takut jika aku ikut ekskul ataupun OSIS di sekolahku itu akan membuat kegemparan di sekolah. Jadi biasanya begitu bel pulang aku langsung pulang. Selain jam sekolah yang sangat lama, kelelahanku bertambah karena sialnya kelasku berada di lantai 3 di sekolah ini. Ya dapat dibayangkanlah betapa lelahnya jika harus berjalan ke gerbang sekolah setiap harinya. Tapi mau gimna lagi sudah takdir. Akupun mengambil tas dan pergi meninggalkan kelas.            
       Di lorong kelas  aku menemukan Andi yang sedang membawa Buku. Ku lihat Andi kesusahan membawa buku tersebut karna buku yang dibawanya cukup banyak dan besar-besar. Karenasimpati akupun menghampirinya.
            “Hi ndi mau kubantu?”
            “Boleh-boleh, makasih lo.”
            “Buku apa ni? banyak amat.”
            “Oh ini tu buku alumni sini, tadi bu Marwa nyuruh aku bawa buku ini.”
            “Bu Marwa? Wali kelas kita itu. Apa gak capek ndi ni buku banyak amat lo? Itulah mau gimana lagi udah tugas ketua kelas.”
      Beberapa menit kemudian sampai lah kami di ruang guru, letak nya berada di lantai dasar. Ternyata masih ada juga guru-guru yang berada di ruangan tersebut. Ada yang memeriksa tugas, ada yang makan, ada yang sedang berbincang-bincang, dan ada juga yang bersiap untuk pulang. Di antara para guru yang sedang berbincang disana lah Bu Marwah sedang berdiri. Bu marwah itu guru bahasa inggris kami sekalian wali kelas kami, dia masih muda jadi sangat semangat saat mengajar. ia juga sangat suka berbicara tentang masa muda kepada murid-murid sehingga banyak murid yang curhat dengganya tentang masalah


percintaan, namun lucu nya dia juga seperti nya takut sama ku karena saat aku berbicara dengangannya matanya melihat kearah lain.
            “Ini Bu buku nya” kata Andi
            “Oh ya  thank you andi” Balas Bu Marwah.
      Setelah itu Andi menyalam ibu itu dan menghampiri ku ,“Makasih ya mas. Oh iya aku mau ke ruang osis ni darurat aku dluan ya ” kata Andi ,” oke ndi hati-hati yo aku juga pulang”. Andipun bergegas ke ruang osis. Sebelum pulang aku memeriksa tas ku apakah semua sudah masuk. Dan ternyata ada buku yang tertinggal akupun memutuskan untuk mengambil buku tersebut. Dengan segedap kemampuan yang ada aku pergi ke kelas ku yang berada di lantai tiga.
       Setelah sampai di depan kelas aku terkejut dengan keadaan kelas yang begitu parah,”Aduh cobaan apa lagi ini “ kelas benar-benar dalam keadaan berantakan meja dan kursi terbalik-balik dan foto juga hiasan dinding semuanya berserakan, dengan berat hati akupun membereskanya. Sudah pukul 4 sore dan aku masih juga belum selesai membereskan kelas, aku beristirahat sebentar ,” Aduh capeknya…” kata ku. Setelah aku mengatakan itu tiba-tia ada yang memanggilku ,”Dimas!” aku kenal suara itu, tak lain tak bukan adalah suara Tiara.
            ”Tiara? kok masih disini”
            “Biasalah latihan rutin basket”
            “Iya juga ya”
            “Ngomong-ngomong ni kelas kenapa berantakan gini”
            “Gak tau tu tiba-tiba waktu aku mau ngamil barang yang ketinggalan udah hancur aja”
            “Okelah biar kubantu lagian inikan kelas bersama”
       Aku bersama Tiara akhirnya mengatur ulang kelas kami semerti sedia kala. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk membuatnya rapi kembali  ,”Makasih ya Tiara” kata ku ,“sama-sama mas” kata Tiara.Setelah itu Tiara kembali ke lapangan dan aku mencari bukuku yang tidak sengaja kutinggal di kelas. Beberapa menit kemudian aku menemukan bukuku di salah satu laci meja di kelas ku lalu akupun meninggalkan kelasku dan segera pulang ke rumah.
       Matahari sudah berganti menjadi bulan, sore berganti malam. Seperti biasa Ibuku belum juga pulang, ya kondisi sepeti ini biasa terjadi Ibu biasa pulang tengah malam, mau tidak mau aku harus mengurus makanku sendiri. Karena seringnya  aku ditinggal kerja begini oleh Ibuku aku jadi handal dalam pekerjaan rumah mau itu menyapu, mengepel, bahkan memasak sudah tidak asing lagi bagiku. Aku hanya perlu memasakkan makan malam untuk Ibu agar saat Ibuku pulang, ia tinggal memanaskan makan malam tersebut.
       Setelah aku makan dan mandi, aku lalu menyiapkan pelajaran untuk besok agar tidak repot di pagi harinya.  Di saat aku memeriksa buku di tas ku, aku menemukan amplop di kantong tas ku. Amplop tersebut tidak mempunyai alamat tujuan dan nama pengirim, hanya amplop amplop dengan surat di dalamnya, Karena penasaran kubukalah amplop itu dan membaca surat itu dan aku sangat terkejut membaca isi surat tersebut. Ternyata surat itu adalah surat cinta. kira-kira seperti ini lah isi surat tersebut.







Aku tidak tau apa yang harus aku tuliskan dalam secarik kertas ini
  Mungkin banyak hal yang tidak ku tahu tentang dirimu,
    Tapi yang aku yakin adalah perasaan ini kepada mu.
Perasaan yang kukemas rapi di atas kertas ini.
  Melihat senyummu…
    Melihat tawamu…
Aku ingin disetiap hari-hariku….bersamamu,
Menjadi hari-hari yang dapat kuingat

dari pengagum rahasiamu…

 


   













      
       Aku kaget dan tidak percaya dengan apa yang telah kubaca. Coba pikirkan, mana mungkin laki-laki menyeramkan seperti diriku ada pengagum rahasia. Aku merasa surat ini bukan ditujukan untuk diriku. Tapi jantungku berdetak dengan kencang muangkin masih beraharap kepada surat tersebut, mana tau surat tersebut asli.
       “ Hoaammm,” aku menguap, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ibu masih juga belum pulang, mungkin ia masih terjebak dengan pekerjaannya yang banyak disana-sini. Akupun hanya dapat berdiam diri di ruang tengah sambil memikirkan kembali siapa pengirim surat cinta itu. Setengah jam kemudian aku mendengar suara ribut dari kamar ku. Brak…bruuk..brak Aku kaget dan langsung ke kamar dengan membawa sapu di tangan untuk jaga-jaga. Sampailah aku di depan kamar, lalu dengan kuat kubuka pintu kamar dan teriak ”SIAPA ITU?!”. Aku ambil lima langkah dari depan pintu sambil melihat keadaan kamar yang berantakan, namun tidak ada orang di dalamnya.
       BAM!  Tiba-tiba ada yang menendang punggungku dari belakang hingga tulang belakangku berbunyi. Seketika aku langsung tersungkur ke depan. Si pelaku langsung menginjak punggung ku sambil mengatakan,”DIMANA SURAT KU?!” . terhalangi cahaya lampu, kulihat samar-samar seorang perempuan dengan pakaian sma. Dan ternyata setelahku lihat, ternyata perempuan tersebut kukenal. Ia adalah bunga perempuan ganas yang menendangku pagi tadi.
       ”KUTANYA SEKALI LAGI DIMANA SURATKU?!” tanya Bunga sekali lagi “Ha? Surat, surat apa?” tanyaku spontan. Dengan muka memerah ia menjawab ,“Surat cinta” jawabnya, lalu aku diam. Aku memberikan isyarat untuk menunggu di kamarku, aku langsung mengambil surat tadi dan memberikan kepada bunga.
            “Maksudnya surat ini.” 
            “Ha iya ini dia suratnya, maaf ya salah orang.”
            “Hadeuh, kau harus bertanggung jawab, kamarku berantakan.”
       Akhirnya Aku dan Siska membereskan kamarku setelah itu aku menawarkan kepadanya untuk bercerita lebih lanjut soal surat cintanya. Aku bertanya kepadanya kepada siapa dia akan memberikan surat cinta tersebut ,”Andi” kata Bunga. Aku tidak heran kenapa Bunga bisa salah tas karena kebetulan kursiku dengan kursi Andi berdekatan. Apalagi bunga pasti gugup saat menyelundupkan surat tersebut.
            “Mas tolonglah comblangi aku sama Andi”
            “Ha? kenapa harus aku”
            “Ya wajar lah kaukan dekat dengan Andi”
            “Okelah tapi ada syaratnya kau harus comblangi aku dengan Tiara”
            “Sepakat”
       Setelah itu Aku dan Bungmembuat rencana sedemikian rupa agar aku dapat pacaran dengan Tiara dan Bunga dapat pacaran dengan Andi. Mulai besok Aku dan Siska sepakat untuk bekerja sama dalam masalah percintaan. Dan akhirnya bunga pulang ke rumahnya. Akupun tidur setelah kejadiaan itu.  

***

       BANGUUUUUUN!
       Aku melompat dari tempat tidurku. Suara anjing yang biasa membangunganku sekarang telah berubah menjadi teriakan maut belapiskan amarah. Tak disangka-sangka ternyata Bunga yang berteriak memabangunkan ku. Mungkin dia terlalu antusias dengan aliansi yang kami buat, sehingga Ia sampai datang ke rumah ku ini.
       Setelah itu Bunga langsung menyuruhku bersiap, akupun bergegas bersiap-siap, sedangkan Bunga menunggu di bawah. Lalu aku ke dapur dan melihat Ibu dan Bunga sedang mengobrol. ”Ma kok Bunga  dikasih masuk kamarku sih?” kataku. ”Itung-itung bangunin kamu Mas, sudah-sudah makan Nanti terlambat ke sekolah.” kata Ibuku. Aku, Ibu, dan Bunga sarapan bersama-sama, Lalu aku pamit ke Ibuku dan kamipun berangkat sekolah.
       “Eh ini jadi kan?” tanyaku. ”Jadilah masak engak, kau maukan deket sama Tiara, pokoknya ikutin ajalah aku.” jawab Bunga. Menurut Rencana kami, hari ini saat jam makan siang Bunga akan mengajak  Tiara untuk makan siang dengan ku, untung-untungan Aku dan Tiara makin akrab. Setelah itu Aku akan mempertemukan Andi dengan Bunga di halaman belakang sekolah, saat kutanya dia mau ngapain dengan Andi, Bunga hanya senyum manyun tanpa menjawab pertanyaanku. Yap itulah kira-kira ringkasan rencana kami. Aku dan Bunga sama-sama berjuang sepanjang perjalanan sekolah kami.
       Dan kamipun sampai di sekolah dan belajar seperti biasa, hingga tibalah waktu makan siang. Aku gugup ,namun demi kelancaran rencaan ini aku harus dapat menahan kegugupanku yang sangat besar. Saking gugupnya rasanyan aku ingin menunutup muka ini.” Ara makan sama kuy” panggil Bunga ke Tiara, menandakan operasi makan siang dimulai.” Oke,“ kata Tiara. Tiara pun dengan semangat mengambil bekal makan siangnya dan berjalan menuju meja Bunga. Setelah itu mereka makan bareng dan aku tinggal menunggu sinyal dari Bunga
       Setelah beberaopa saat kemudian Bunga melakukan perengakan tangan ke atas setelah kulihat sinyal tersebut dengan gagahnya Aku berjalan melintasi Bunga dan Tiara sambil membawa bekal makan siangku, aku katakan gagah, tapi sebenarnya aku berjalan kaku ke tempat mereka, Bunga yang melihatku berjalan  seperti itu mempunyai ekpresi wajah seakan-akan mengatakan bahwa diriku ini sangatlah payah.   Kemudian masuklah  ke tahap selanjutnya dalam rencana kami, Bunga akan mengajak ku untuk makan bersama mereka. “Dimas! Ayo makan bareng.” Panggil Bunga.” Makan bareng? Oke.” Akupun datang dan duduk disebelah Tiara. Untuk saat ini rencana kami bisa dikatakan safe.
       Dan tahap selanjutnya adalah Bunga akan mengajak Aku dan Tiara saling berbicara, namun tiba-tiba.”Widih makan bareng gak ngajak-ngajak.” Andi datang menghampiri kami sambil membawa bekal makan siangnya.” Aku Ikutan ya?” Tanya Andi, Kondisis seperti ini diluar rencana kami. Aku bingung dan langsung bertanya kepada Bunga menggunakan kode. Sialnya yang kulihat hanyalah Bunga dengan muka yang memerah dan mulut sedikit terbuka, setelah melihat Bunga yang seperti itu aku langsung mengambil kendali dan meng-iyakan Permintaan Andi tersebut, karena kulihat Tiara juga terlihat tidak keberatan dengan adanya Andi.”Oke makan bareng kita” Jawabku.
       Disinilah empat anak remaja SMA sedang melanjutkan masa mudanya, dimana dua diantaranya sedang dimabuk cinta dan dua lainnya adalah targaet mereka. Karna kehadiran Andi Bunga tidak dapat berbicara leluasa dan rencana makan siang ini berantakan, namun dewi fortuna sedang dipihak ku, dari kekosongan makan siang kami, Tiara membuka mulutnya untuk memulai percakapan diantara kami.”Eh mas tadi pagi aku liat bunga sama kamu jalan bareng ke sekolah, kok tiba-tiba jadi akrab gitu ?” Tiara bertanya kepada ku. Aku panik dan langsung menjawab bahwa Aku dan Bunga bertemu di supermarket dekat rumah ku ,dan ternyata rumah Bunga dekat dari tempat tinggal ku, aku tau itu sebuah kebohongan, tapi ya mau gimana lagi dari pada rencana ini terbongkar.” Yah tu mas,Aku kaget loh liatnya gak kusangka ada juga yang mau temenan ama kamu mas.” Sahut Andi, Bunga hanya menganggukan kepala nya setuju dengan andi, ia sama sekali tidak membantu.
       Lalu kami diam kembali, kali ini tidak ada percakapan diantara kami, kosong seperti malam hari. Kulihat jam dan istirahat tinggal sepuluh menit lagi, waktu ku untuk lebih dekat dengan Tiara menipis. Kemudoa tidak sengaja kulihat buku yang ada di samping Tiara lalu akupun bertanya.”Tiara kamu suka baca buku ya?” pertanyaanku itu membuat percakapan dimulai kembali. Tiara mengakatakan bahwa ia suka membaca novel misteri dan buku-buku tentang konspirasi, setelah itu kami berempat memulai percakpan yang menarik tentang sekolah, kegiatan sehari-hari, kesukaan , bahkan sampai pandangan kami terhadap alam dan sekitar. Dengan itu Aku makin dekat dengan Tiara sekaligus dengan Andi dan Bunga. Rencanaku sukse, apalagi kulihat Bunga dengan Andi juga makin dekat, ini seperti sekali dayung dua tiga pulau terlewati.
       Setelah makan siang Aku dan Bunga melajutkan rencana kami untuk embuat Bunga dengan Andi semakin dekat. Aku tidak tahu kenapa tapi untuk rencana kali ini Bunga hanya memintaku untuk memanggilkan Andi untuknya, ya akupun hanya menuruti apa kemauan Bunga. Sehabis pelajara di sekolah aku langsung menjumpai Andi dan mengatakan bahwa Bunga memanggilnya di pohon belakang sekolah. Andi meng-okekan pangilan tersebut dan Aku menkonfirmasi kedatangan Andi kepada Bunga. Setelah itu Aku bergegas untuk pulang.
       Saat melewati perpustakaan sekolah, Aku melihat Tiara yang sedang membaca dengan asyik di sana, lalu aku terpikirkan untuk menghampirinya atau tidak. Dengan segenap keberanian yang ada Aku memutuskan untuk menjumpainya.”Hai Tiara hari ini gak latihan basket?” Tanyaku.” Oh Dimas ternyata, anak basket gak ada yang bisa latihan di cancel deh jadi nya.” Jawab Tiara.”Baca asik bener, baca apa si?” Tanya ku lagi.” Oh ini tu novel misteri dari Agatha Chiristie. Mendengar itu aku langsung mengajak ngobrol mengenai novel buatan Agatha Chiristie ke Tiara karena kebetulan Aku suka Novel buatanya. Kami ngobrol cukup lama dan akhir obrolan kami ,Tiara memberitahuku soal Bunga kepada ku. Tiara mengatkan bahwa Aku harus memerhatikan Bunga karena Bunga sangatlah rapuh. Setelah percakapn kami tersebut aku langsung mengecek keadaan Bunga di halaman belakang sekolah.
       Setibanya di halaman belakng sekolah aku melihat Bunga sedang duduk sambil melihat langit, lalu Aku mengampirinya.”Bunga gimana hasil nya?” Tanyaku.”Parah mas, Aku ditolak.” Kata Bunga. Ia pun menangis setelah mengatakan itu aku mencoba untuk menenangkannya. Lalu Aku mengatakan satu kalimat kepada Bunga.
” jangan menyerah masih banyak kesempatan kau adalah si Sura dan aku adalah si Baya dengan kekuatan dua oarang yang ditakuti di sekolah ini kita akan membuat Andi menyesal menolak mu.” Setelah aku mengatakan itu Bunga bangkit dan mengatakan iya tidak akan menyerah. Akhirnya perjalanan ku dengan Bunga dimulai kembali.




Nama:Taufiqurrahman
Tempat,Tanggal,lahir: Bogor 2 Maret 2002
Status: Siswa Kelas XII IPA 1 T A 2019/2020
Nama Ortu: Azhar
Alamat Jalan Pasar 1 Tanjung Sari G.Mahoni No 5 Medan Selayang